Bukan Perencana Terbaik
Betapa indah rencanaku.
Betapa aku suka menyusun rencana.
Namun, tetap kalah dengan rencana Allah yang Maha Sempurna.
Aku yang begitu terencana, bahkan tentang apa yang akan aku
lakukan dalam satu hari.
Apalagi tentang suatu hal yang menyenangkan, seperti liburan
akhir tahun bersama teman.
Betapa menyenangkannya dalam bayangkanku setiap aku
memikirkan liburan itu. Bahkan terbawa dalam alam mimpi di setiap tidurku.
Aku yang kali ini punya liburan akhir tahun, punya uang dan
punya izin dari orangtuaku. Bahkan punya semacam dendam karena teman-temanku
sudah lebih dulu ke Jogja. Ya, itu kota tujuan berliburku. “Nih liat, Fitri
juga bisa liburan ke jogja pakai uang sendiri, bweee”
Begitulah isi catatan ku untuk nanti jadi caption di
foto yang akan aku upload di sosmed setelah di jogja. Semuanya sudah ku
siapkan dari jauh-jauh hari, bahkan hanya untuk urusan sosial media.
Aku lupa
Aku, semua rencanaku, belum tentu sama dengan rencana Tuhan.
Aku mempersiapkan semuanya untuk bersenang-senang, tapi lupa
untuk mempersiapkan hal yang tidak diinginkan terjadi
Aku kecelakaan.
Tepat di Hari Ibu, 22 Desember
Tepat satu minggu sebelum aku ulang tahun
5 hari lagi sebelum aku berangkat
Hari itu aku tidak mengenali emosi dalam diri
Entah marah, sedih atau kecewa
Aku kosong
Aku hanya yakin ini gapapa
Ini sakit sebentar
Dalam 2-3 hari aku pasti bisa beraktifitas normal lagi
2-3 hari lagi, luka ini pasti hilang
Aku tetap harus berangkat ke jogja
Aku tidak menangis
Tapi ibuku yang menangis
Ibu adalah orang yang tidak mudah jatuh air matanya di depan
orang lain
Tapi kala itu, setiap malam dia menangisiku
Dia tidak tidur dan hanya mengusap kepalaku
Bahkan dia meminta adikku untuk tidak tidur Bersama kami
berdua
Malam itu, setelah dua hari belum membaik dan melihat ibu
yang terus menangis. Aku baru menyadari, ini sakit, ini tidak mungkin sembuh
dalam 5 hari.
Aku yang kemarin bersikeras untuk tetap berangkat ke Jogja,
merasa sangat egois pada diri sendiri dan Ibu.
Ibu yang mungkin merasa ketakutan
Ibu yang harusnya ku hadiahi buket Bunga di 22 Desember
Tapi malah aku beri kekhawatiran dan air mata
Dan Ibu yang ingin aku berlibur dengan jiwa raga yang sehat
Belum merasa lebih baik bahkan di hari ke-4. Aku menangis
sejadi-jadinya. Baru menyadari bahwa gagal semua rencana yang aku susun dengan
semangat yang luar biasa itu.
Aku sangat kecewa. Karena aku manusia.
Namun aku juga diberi pilihan untuk tidak usah
berlarut-larut dan terus berpikiran positif
Bahwa, aku tidak kalah, rencana ku juga tidak kalah
Karena Rencana Allah memang tidak untuk di lawan
Aku hanya harus menerima dengan lapang dada bahwa kegagalan
ini semua sangat mungkin terjadi
Bukan aku yang kuat
Bukan ibu ku yang kuat
Tapi Allah yang menjadikan kuat dan mampu
karena Allah yang menjanjikan bahwa dia selalu memilihkan
yang terbaik
Tapi karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas
kemampuan kita

Komentar
Posting Komentar